Ketika kePEREMPUANanku hampir lengkap

by Yulia Hambali 0 komentar

True story dari seorang ibu....
Waktu itu memasuki bulan ke-3 thn 2002 tepatnya usia janin dlm perutku udah genap 8 bulan…ini menandakan ntar lagi aku bakal punya "bocah kecil". Mas Happy pun memberi support, 30 hari berpuasa akan dijalaninya nanti, sebagai niatnya atas kelahiran bayi mungil kami, en…… s'perti banyak kubaca dan kudengar dr orang2 kalo' di usia kehamilan inilah..perasaan seorang calon ibu lagi peka2nya…sensitive banget….p'kok'e sering tdk menentu. Akhirnya terbuktikan juga olehku..kalo' 'keadaan' itu bukan cuman teori atau 'hantu kata' yg sering mencemaskan semua calon ibu di dunia ini, namun bener2 terjadi…berbagai butir2 perasaan yg berlainan saling campur aduk..di hatiku… ada gundah, senang, haru, cemas bahkan yg lebih parah ada perasaan "takut mati"…Subhanallah… semuanya meronrong, bersarang bergantian. Akibat perasaan inilah aku memutuskan u/ melahirkan di dekat Mama, sekalian bisa pulang kampung, maklum….kota tempatku bekerja terpisah jauh puluhan ribu km dengan tempat asalku.
Tepat tgl 11 Maret 2002 aku bertolak menuju Makassar, sebelumnya..aku diantar Mas Happy ke Bandara Frans Kaisiepo u/ check in tiket….dengan segala perasaan ikhlas kutinggalkan suamiku…dan diapun janji akan menyusulku jika hari "H" nya udah dekat….sesaat sebelum berangkat diciumnya keningku …sejuk dan teduh…terselip dlm hati…kalau ciuman itu sekaligus doa dan asa….sebagai seorang suami dan calon Ayah dr anakku kelak….
Bulan Maret udah mo' hampir abis…tapi mules2 di perutku plus flek2 sama sekali belum muncul…perasaanku makin cemas..seharusnya sekarang-sekarang ini aku udah bisa menimang mutiara kecilku. Dan spertinya ada yg tdk beres dgn kandunganku, hatiku makin panik dan was-was….jangan…jangan…ah, sudahlah..aku hanya bisa berserah diri dan banyak2 bersujud kepadaNYA, mengharap belaian-NYA untuk memberi setiap kemudahan…sekaligus kusemangati diriku u/ segera menamatkan bacaan Al-Qur'an…kebetulan nadzarku kemarin..pengen Khatam Al-Qur'an 2 kali selama hamil.
MasyaAllah…. hari sudah melompat ke bulan April namun tanda2 bersalin belum juga berkenan, Apakah ini pengaruh obat penahan kontraksi itu ???…yang diinjeksikan ke tubuhku beberapa hari sebelum keberangkatanku ke Makassar ? Setelah dirudung keraguan…. buntut2nya kukonsultasikan juga hal ini kepada Dokter kandunganku….maklum ..sebagai calon ibu muda ..aku mesti pinter2 menyiasati diri kalau2 butuh nasehat seorang Dokter…dan akhirnya kuterima juga keputusan di hari itu , bahwa usia kehamilanku sudah lewat hari, bahkan 5 hari kedepan tepatnya 6 April, Dokterku akan mengambil tindakan u/ segera mengeluarkan bayiku…entah itu melalui Drips atau Caesar… Subhanallah….aku semakin takut…pertanda apa lagi ini ??? Aku pun hanya bisa berbisik sambil bermunajat " Yaa..Allah…Engkaulah yang lebih berhak atas diriku dan bayiku, bukan siapa-siapa …Engkaulah yang memberi kehidupan dan sesudahnya….memberi segalanya…"
Hari Sabtu sore, 6 April 2002, saya ditemani Mama,Bapak, dan Mas Happy bergegas ke Klinik Bersalin "SUCI", tempat dimana saya berencana u/ bersalin. Setelah menunggu beberapa menit di Ruang Tunggu, akhirnya sayapun masuk ke Ruang Dokter u/ pemeriksaan dengan ditemani Mas Happy. Setelah melakukan beberapa tahap pemeriksaan, Dokterku segera membuat resume bahwa hari itu yang sedianya akan diambil tindakan Drips/ alias Opname dgn Infus terhadap saya, kembali diurungkan, Alhamdulillah ..ketakutanku sedikit terkurangi…namun saya tetap direkomendasikan untuk segera memonitor kandungan saya melalui USG sekali lagi, kata Dokter sih untuk memastikan kalau2 tdk ada gejala kelainan baik itu pd bayiku maupun diri saya. Kesimpulannya, Dokter masih berharap dan memberi jalan kepada saya untuk bersalin dengan normal.
Dua hari kemudian tepatnya 8 April 2002, saya pun menjalani pemeriksaan USG di Rumah Sakit Umum Polewali. Hampir sejam saya berada dalam Ruang Lab. USG. Akhirnya kuterima juga pernyataan yg tdk mengenakkan tentang kandunganku, dinding kantung makanan plus plasenta bayiku sudah memutih karena lapisan kapur, cairan amnion atau yg lebih dikenal dgn air ketuban juga makin berkurang di dlm rahimku, dan dengan keadaan ini Dokter pun menyarankan agar saya berhati-hati, karena bisa-bisa bayiku tidak terselamatkan…MasyaAllah…..dadaku sesak dan bergemuruh, "Ya, Allah apa yang mesti saya lakukan ??" Dokter pun coba meyakinkan…bahwa satu-satunya jalan adalah segera mengeluarkan bayiku, beliau menyarankan agar saya tetap di Drips untuk melunakkan tulang panggulku, tempat jalan lahir bayi. Beliau tidak memberi tenggang waktu, lebih cepat jauh lebih aman, katanya. MasyaAllah…saya semakin takut…Akhirnya tanpa berpikir panjang, hari itu juga saya menyatakan bersedia Opname di Klinik Bersalin, sekalipun waktu itu saya sudah tidak sempat lagi koordinasi dengan Mas Happy, menanyakan persetujuannya, mengingat Mas Happy sedang berada di Makassar untuk Pelatihan. Pikirku, Mas Happy tetap merestui apapun keputusan yang saya ambil, asalkan itu baik buat saya dan keluarga kami.
Di rumah, selepas Sholat Ashar, kutenangkan diriku sambil membaca Ayat Kursi dan Surah Yaasin. Tepat jam 5 sore, saya bergegas membersihkan diri, maklum Orang Tua alias Orang dulu menganjurkan bahwa sebelum bersalin kita mesti mandi layaknya mandi wajib selepas haid, nifas, dsb. Setelah segalanya siap, termasuk pakaianku dan perlengkapan bayiku, saya dengan ditemani Mama dan Bapak segera menuju ke Klinik, tempat dimana saya akan melahirkan. Kebetulan jarak rumah dan Klinik Bersalin cukup jauh, dengan menggunakan Panther, Bapakku menyetir mobil cukup kencang.
Sesampainya di Klinik, saya langsung disambut beberapa Perawat, Bidan, dan seorang Dokter Umum. Bidan yang akan menangani proses persalinanku segera menuntun saya masuk ke Kamar Pemeriksaan untuk dilakukan pemeriksaan dalam. Tidak dalam hitungan jam, alat-alat dan perlengkapan Infus sudah disiapkan. Sewaktu melihat Jarum Infus dan Botol Cairan, hatiku makin berdegup kencang. Maklum perasaan takut senantiasa menyertai, apalagi sebelumnya, saya sama sekali belum pernah merasakan jarum infus ditusukkan masuk ke pergelangan tangan saya. Sambil Dokter meraba-raba pergelangan tangan saya untuk mencari denyut nadi yang pas tempat jarum infus ditusukkan, saya meminta izin untuk mendengar Nasyid Raihan melalui walkman yang saya bawa dan persiapkan dari rumah. Saya berharap, alunan melodi Raihan yang khas dan cantik itu dapat meredam rasa sakit saya apabila mata infus ditusukkan.
Kupejamkan mataku, "Srrrrttt.." darahku muncrat keluar akibat tusukan jarum, perih rasanya. Cepat-cepat perawat mengganti pangkal jarum dengan pipa infus, katanya agar darahku tidak banyak yg terbuang, sehingga cairan infus pun akan mudah masuk melalui pembuluh nadiku. Alhamdulillah…prosesnya cepat usai, sambil berdzikir tak berhenti kunikmati acapella Raihan. Tidak beberapa lama kemudian, Adzan Magrib pun terdengar, saya pun bangkit dari pembaringan, dengan dibantu Mama, saya sedikit dibopong ke Kamar Mandi u/ Wudlu. Seusai Sholat Maghrib, saya tetap berdzikir sambil menunggu waktu Isya'. Setelah menjalankan kewajibanku untuk menunaikan Sholat Isya', kembali kubenahi tempat tidurku yang agak sedikit berantakan.
Kini, jam dinding menunjukkan pukul 8 malam tepat, mules-mules diperutku sudah mulai muncul. Pikirku, obat peransang melalui cairan infus ini sudah bereaksi. Bawaannya pengen buang air melulu, berkali-kali saya keluar masuk kamar mandi. Memang prosesnya lumayan repot, abis…. botol infus dan tiang penyangganya harus setia kubawa-bawa hingga ke kamar mandi. Setelah mondar-mandirnya lumayan lama, akhirnya Bidan dan Dokter masuk ke ruanganku, ditanyakannya keadaanku, cepat-cepat saja kujawab kalau sakitnya sudah sedikit terasa. Merekapun menyuruhku agar segera beristirahat, mengingat sebentar lagi saya bakal membutuhkan banyak tenaga untuk proses bersalin.
Tepat jam 10 malam lewat 20 menit, Mama pamit untuk pulang ke rumah, maklum Mama takut nungguin saya melahirkan, katanya Beliau tidak tega jika nanti melihat saya, anaknya mengerang kesakitan. Sebenarnya, saya sedikit kecewa, mana Mas Happy juga tidak ada. Tapi, itu hak Mama, saya pun tidak ingin menyusahkannya, kasian Mama yang selama ini sudah cukup berkorban, toh…kalau ada Mama atau Mas Happy mungkin juga, saya semakin cengeng menghadapi semua ini. Akhirnya, dengan ditemani Elis dan Agus, adik saya yang nomer 3 dan 4, kulewati detik demi detik dengan sabar dan tetap ingat kepada-NYA.
MasyaAllah….Subhanallah…sakitnya makin menjadi-jadi, tadinya hanya berinterval 15-15 menit sekarang sudah 5 menit-an, sedangkan waktu masih menunjukkan pukul 11 malam. Tulang panggul dan bokongku serasa pengen lepas, perasaan buang airpun juga semakin sering muncul. Sakitnya begitu nyeri, melilit-lilit dari panggul menusuk ke rahim bagian dalam. Setiap 5 menit, kurasakan sakit yang sama, dibawah perut terasa teriris-iris, bagai disayat sebilah pisau. "Allahu Akbar"….sakitnya benar-benar sakit. Tidak pernah kurasakan sakit seperti ini sebelumnya, keringat dingin dan peluhku begitu cepat membasahi sekujur tubuh. Setiap sakitnya datang, saya hanya bisa meringis dan menggigit ujung bantalku untuk menahan sakit. Tidak henti-hentinya, kusebut Asma Allah "Subhanallah..walhamdulillahi ..walaa Ilaahaillallah..walahaula walaquwwata Illahbillah Wallahu Akbar"
Sekali-kali kulirik jam di dinding, waktu begitu lambat terasa. Hatiku membatin, sampai kapan Allah mengujiku dengan sakit seperti ini ???..apakah sampai pagi nanti..atau siang esok..atau bahkan sampai esoknya lagi…MasyaAllah..pasti saya semakin tidak sanggup.
Jam 12 malam lewat sedikit, saya sudah agak bosan berada di pembaringan terus, coba kutegakkan tubuhku, saya beranjak meninggalkan tempat tidur, dengan ditemani Agus, adikku, kuajak dia berjalan-jalan keliling komplek Klinik. Memang sakitnya tetap ada, tapi saya coba menahannya, bahkan dengan berjalan sakitnya sedikit tekurangi. Tanpa saya sadari, darahku terisap keluar melalui pipa infus, adikku panik, mulanya saya tidak melihat kejadian ini, tapi setelah adikku teriak histeris kalau-kalau darahku makin banyak keluar bahkan sudah mendekati botol cairan yang dipegangnya, sayapun ikut-ikutan panik dan was-was. Segera adikku memanggil seorang perawat, dituntunnya saya untuk kembali ke kamar. Sambil rebahan, pipa infusku dibenahi, syukur saja darahku belum mengalir sampai ke botol cairan, kalau itu terjadi, injeksi ulang akan dilakukan. Namun, perawat itu hanya menyuntikkan jarum ke pipa infus untuk menyedot semua darah yang mengganjal cairan infus. Dengan sedikit menasihati, perawat itu mengingatkan agar saya tidak meletakkan tangan saya lebih tinggi dari botol cairan, atau kontrol pipanya diatur supaya terkunci sehingga cairannya tidak bisa keluar. Alhamdulillah..pelan-pelan semuanya teratasi.
Jam 01.00 dinihari, sakit di perut saya makin tidak bisa ditolerir, rasa melilit dan ditusuk-tusuk masih bersarang, saya hanya bisa sedikit mengerang sambil terus mengucap kata Tahmid, Tahlil, dan Takbir. Semua kemungkinan terburuk mulai terbayang, menari-nari di ruang benak saya. Dadaku pun semakin sesak, tidak ada tempat untuk berbagi, hanya kepada Allah, saya adukan semuanya. Mama tidak ada mendampingi, begitupun Mas Happy, hanya kepadaNYA kupasrahkan semuanya, karena kuyakin DIA Maha Menyaksikan.
Hatiku begitu giris, jiwaku guncang, teramat takut, " Akankah maut menjemput ?"…MasyaAllah …kenapa saya begitu takut akan mati, padahal saya pasti akan mati…suatu saat…nanti, dan jika kematian itu datang, tidak ada tawar-menawar….Subhanallah.
Setiap detik…..,setiap erangan kesakitan….setiap denyut nadi… kulalui dengan usaha untuk selalu mengingat akan kebesaranNYA, akan kejaibanNYA, akan kasihsayangNYA….tanpa pernah menduga-duga takdirNYA, tanpa pernah sangsi akan Ke-maha adil-anNYA. "Saya yakin Allah sayang kepada semua hamba-hambaNYA".
Pukul 3 dini hari, saya kembali dijenguk oleh Bidan. Beliau mempertanyakan keadaanku, sambil mengelus-ngelus perutku, dia seolah-olah mengatur posisi dan letak bayiku, dan sebagai prediksi, bidan itu memperkirakan bahwa tidak lama lagi saya akan mengeluarkan bayiku, mengingat sakit yang saya rasakan telah beruntun. Namun, Bidan belum bisa bertindak apa-apa karena diwaktu yang bersamaan, Beliau juga sedang menangani seorang Ibu yang juga akan bersalin, dan kebetulan lagi Ibu tersebut sudah mencapai pembukaan delapan.
Tepat jam 04.30 pagi, sakit di rahim saya mencapai klimaksnya, beribu-ribu peluh terus keluar dari setiap pori-pori kulitku, penglihatanku semakin kabur, bahkan airmata pun tak terbendung. Rasa sakit itu terus menghujani, sebagai pertanda bayi mungilku tidak sabar lagi untuk melihat dunia. Kuelus perutku, sambil bergumam, "InsyaAllah, jika Allah mengizinkan, sebentar lagi…Mama… akan memelukmu…" Akhirnya, saat yang kutunggu-tunggu telah datang, Bidan beserta 2 orang perawat datang menghampiriku, dengan sigap Bidan mamakai sarung tangan steril, tujuannya tidak lain tidak bukan untuk melakukan pemeriksaan dalam terhadap leher dan muara rahimku. "Alhamdulillah!!"…pekik Bidan itu, "pembukaannya sudah lengkap, mari…saya tuntun ibu menuju Kamar Bersalin". "DUG"….hatiku tersentak kaget, seluruh tubuhku gemetar. Allahu Akbar…sebentar lagi ke-perempuan-anku hampir lengkap. Saya akan melahirkan, saya akan menjadi Ibu dari seorang bayi. Alhamdulillah…..
Dengan dibantu 2 orang perawat, saya beranjak dari tempat tidur, bahkan tanpa bantuan kursi roda saya bisa berjalan sendiri menuju Kamar bersalin yang letaknya agak dibelakang dari Komplek Klinik Bersalin ini. Sengaja saya memilih ini, mengingat ..nasehat medis..bahwa…untuk mempercepat proses kelahiran dengan masuknya kepala bayi di tulang panggul, Si Ibu harus banyak-banyak berjalan.
Setibanya di Kamar bersalin, kembali saya dihimpit rasa takut, "Alat-alat itu…jarum..gunting, mangkok stainless, lampu bersalin, tabung Oksigen" Membuat nyali saya kiyut. Subhanallah….kuatkan saya …. Dengan dihimpit beribu rasa takut dan was-was, pelan-pelan ku rebahkan tubuhku di atas matras bersalin, sambil membenahi jarum infusku yang hampir terlepas. Selang beberapa menit kemudian Ibu Bidan menghampiriku, "Nak, saya tinggal sebentar…saya Sholat dulu…. …setidaknya kita sama-sama berdoa…semoga Allah meridhoi proses persalinan ini, …InsyaAllah..setelah Sholat…..Ibu akan bimbing….dan sebaiknya…jangan berkuat dulu."….MasyaAllah…. Hatiku begitu giris, melewati setiap detik ini yang terasa begitu lama, bahkan sakit di rahimku pun semakin sakit. Kantung ketubanpun sudah pecah, airnya menghambur keluar, membasahi hampir seluruh permukaan matras."Astagfirullah…astagfirullah…"..tak henti-hentinya saya beristighfar. Tidak lama, sekitar 10 menit kemudian, Ibu Bidan pun datang mendekatiku, sambil tersenyum diusapnya kepalaku "Kita bisa mulai sekarang…" sambil memberi isyarat kepada 2 orang perawat untuk segera menyiapkan segala sesuatunya.
Dengan posisi setengah duduk- setengah berbaring, kurenggangkan kedua kakiku, kuletakkan kedua tanganku dibelakang kepala untuk membentuk daya dorong. Ibu Bidan pun memberi instruksi, agar saya bersiap-siap mengejan…."Satu..dua…tiga…"….."Akkkkkhhhhh……"…kutahan nafasku sambil kupejamkan mataku…perih rasanya….."AllahuAkbar..!!"….sakitnya begitu perih apalagi di sekitar leher rahim. Terus kucoba untuk berkuat….., setiap kali sakitnya datang membahana, kususul dengan tindakan mengejan. Suara Ibu Bidan…perawat… terus terdengar untuk memberi sugesti terhadapku agar saya terus berkuat. Hampir setiap 5 detik kurasakan hal yang sama..teramat perih..nyeri ….…menusuk dari tulang panggul hingga ke ulu hati…peluhku pun sekonyong-konyong membasahi semua permukaan kulitku, kedua tangan dan kakiku terasa amat dingin, …MasyaAllah…ampun Ya…Allah….sakit nian sakit ini. Begitulah seterusnya, hampir 40 menit, saya merasakan sakit yang sama.
"MasyaAllah!!!"..pekikku dalam hati…sambil melirik jam dinding yang berada tepat dihadapanku…jarum jam sudah menunjukkan pukul 06.05, namun proses bersalin belum kunjung usai. Hatiku pun semakin takut, kembali dihinggapi rasa cemas, belum lagi tenagaku hampir habis, hampir mendekati titik nol. "Subhanallah.." saya mesti berbuat apa…akankah saya dioperasi?…akankah bayi saya terselamatkan…akankah saya diberi kesempatan untuk menatap kembali wajah-wajah orang yang kukasihi ?….Allahu Akbar…saya pasrah kepadamu…Yaa..Rabb…
Air mataku pun mulai berjatuhan satu persatu….syahdu hati ini..tak ada lagi kekuatan…kedua tanganku lunglai …tidak mampu menopang kepalaku…penglihatanku semakin gelap…sekujur tubuhku gemetar, mulutku kaku, tenggorokanku kering….Inikah maut yang menjemput…."Subhanallah…..aku siap Yaaa…Allah…namun …anakku…"…..tiba-tiba sayup kudengar suara Ibu Bidan .."Nak…sedikit lagi….kepala bayi sudah di pintu….Sekali lagi!!!"…..dengan kekuatan…..yang saya yakin datangnya dari Allah…...saya mengejan sekuat-kuatnya….."Prooottthhh…!!"…"Oeeee…ooooeeeeeeeee….oeeeee………"…..Alhamdulillah.."..pekik Ibu Bidan…"Anak yang cantik….!!…
MasyaAllah….itu …..itu….bayiku… bisikku….kupaksa untuk membuka kedua mataku walau terasa amat berat…Ya, bayi merah itu anakku…tidak salah lagi…Alhamdulillah…AllahuAkbar….berpuluh-puluh pujian keluar dari tenggorokanku yang kering, Allahu Akbar…. air mataku pun semakin mengalir deras….jatuh …membuat telaga….terbayang di pelupuk mata… segala keindahan…terasa begitu berarti setiap tarikan nafas…., terasa begitu nikmat hidup ini…terasa…begitu luasnya sayang Allah kepada kita…CINTA yang tidak bertepi. "Saya bisa…Yaa..Allah..saya mampu…sebagai seorang perempuan.."…..Inginku berlari…menghampiri setiap orang yang selalu hadir dalam kehidupanku…..untuk membisikkan…" Kini..kupunya anak yang cantik …karena keajaibanNYA…"


KETIKA ALLAH BERKATA "TIDAK"

by Yulia Hambali 0 komentar

Ya Allah ambillah kesombonganku dariku
Allah berkata, "Tidak. Bukan Aku yang mengambil, tapi kau yang harus menyerahkannya."
Ya Allah sempurnakanlah kekurangan anakku yang cacat
Allah berkata, "Tidak. Jiwanya telah sempurna, tubuhnya hanyalah sementara."
Ya Allah beri aku kesabaran
Allah berkata, "Tidak. Kesabaran didapat dari ketabahan dalam menghadapi cobaan; tidak diberikan, kau harus meraihnya sendiri."
Ya Allah beri aku kebahagiaan
Allah berkata, "Tidak. Kuberi keberkahan, kebahagiaan tergantung kepadamu sendiri untuk menghargai keberkahan itu."
Ya Allah jauhkan aku dari kesusahan
Allah berkata, "Tidak. Penderitaan menjauhkanmu dari jerat duniawi dan mendekatkanmu pada Ku."
Ya Allah beri aku segala hal yang menjadikan hidup ini nikmat
Allah berkata, "Tidak. Aku beri kau kehidupan supaya kau menikmati segala hal."
Ya Allah bantu aku MENCINTAI orang lain, sebesar cintaMu padaku
Allah berkata... "Akhirnya kau mengerti !"
Kadang kala kita berpikir bahwa Allah tidak adil, kita telah susah payah memanjatkan doa, meminta dan berusaha, pagi-siang-malam, tapi tak ada hasilnya. Kita mengharapkan diberi pekerjaan, puluhan-bahkan ratusan lamaran telah kita kirimkan tak ada jawaban sama sekali -- orang lain dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan. Kita sudah bekerja keras dalam pekerjaan mengharapkan jabatan, tapi justru orang lain yang mendapatkannya-tanpa susah payah.
Kita mengharapkan diberi pasangan hidup yang baik dan sesuai, berakhir dengan penolakkan dan kegagalan, orang lain dengan mudah berganti pasangan. Kita menginginkan harta yang berkecukupan, namun kebutuhanlah yang terus meningkat.
Coba kita bayangkan diri kita seperti anak kecil yang sedang demam dan pilek, lalu kita melihat tukang es. Kita yang sedang panas badannya merasa haus dan merasa dengan minum es dapat mengobati rasa demam (maklum anak kecil). Lalu kita meminta pada orang tua kita (seperti kita berdoa memohon pada Allah) dan merengek agar dibelikan es. Orangtua kita tentu lebih tahu kalau es dapat memperparah penyakit kita. Tentu dengan segala dalih kita tidak dibelikan es. Orangtua kita tentu ingin kita sembuh dulu baru boleh minum es yang lezat itu. Begitu pula dengan Allah, segala yang kita minta Allah tahu apa yang paling baik bagi kita. Mungkin tidak sekarang, atau tidak di dunia ini Allah mengabulkannya. Karena Allah tahu yang terbaik yang kita tidak tahu. Kita sembuhkan dulu diri kita sendiri dari "pilek" dan "demam".... dan terus berdoa.

RENUNGAN TAUBAT

Taubatan nasuha adalah taubat yang sungguh-sungguh
pertama dan terakhir ia berjanji untuk tidak lagi mengulangi perbuatannya menyesal tidak pernah bangga dengan masa lalunya mudah menangis dan ia sangat bersemangat-sangat bersemangat
mengejar kebaikan dan perbaikan
sunah menjadi wajib baginya makruh menjadi haram
mubah menjadi berkah
ia jaga dirinya bergaul kepada orang-orang soleh
dan ia bahkan mengajak saudara-saudaranya yang terlanjur sesat
untuk kembali kejalan Allah
sebagaimana dirinya yang mendapat hidayah Allah
itulah ciri taubatan nasuha dan
itu karunia dari Allah sekali lagi karunia dari Allah
selama kita hidup jangan pernah pesimis
optimislah ada harapan untuk bertaubat
maha bijaksana Allah maha kasih sayang Allah
betapapun hebatnya dosa yang kita lakukan yang kita sembunyikan dimuka bumi ini sungguh ampunan Allah lebih besar dari pada dosa kita
Ikhwah segeralah bertaubat jangan tunggu lagi
Allah menantimu


Ketika Akal Berpikir Imanpun Bertambah

by Yulia Hambali 0 komentar

"Fenomena alam adalah fakta, kenyataan, yang tunduk pada hukum hukum yang menyebabkan fenomena itu muncul, kemudian ada keterlibatan siapa di balik fenomena tersebut?"

Salah satu ciri makhluk dikatakan hidup adalah bergerak, manusia disibukan oleh rutinitas masing masing. Secara visuil kita bisa membedakan keadaan manusia yang diam dan yang disibukan dengan kegiatan kegiatan. Kita ambil contoh orang yang duduk di rumah sambil berpikir dengan seorang pekerja lapangan atau olahragawan yang senantiasa melatih tubuhnya. Secara spontan, maka yang kita pikirkan adalah hasil dari usaha kedua orang tersebut. Lalu pernahkah anda berpikir mereka adalah dua makhluk hidup yang bergerak? lalu kenapa mereka bisa bergerak?

Secara ilmu hayat, tubuh manusia terdiri dari miliaran sel sel yang membentuk jaringan sel-sel, otot otot, tulang, organ tubuh dan sebagainya. Kalau ditinjau lebih seksama, maka ia memiliki karakter frekwensi getaran tersendiri, frekwensi dari tubuh seseorang merupakan kumpulan dari semua frekwensi sel sel pembentuk tubuhnya, sehingga orang yang bersangkutanpun ditentukan oleh keadaan sel-sel tubuhnya, selanjutnya di dalam setiap sel terdapat satu "unit pikiran" (mind stuff) yang secara kolektif akan membentuk pikiran orang tersebut.

Jadi, pikiran seseorang dipengaruhi langsung oleh keadaan sel sel ini. Sel-sel pembentuk tubuh ini terbuat sebagian besar oleh makanan yang kita makan. Begitupun ia juga tumbuh dan berkembang dari makan, udara dan air yang kita peroleh dari lingkungan kita, sel-sel dalam tubuh berusia 21-28 hari, sel yang mati diganti dengan sel yang baru terbentuk. Disini jelas dapat kita lihat bahwa makanan sangat mempengaruhi kondisi sel dalam tubuh kita yang berarti menentukan tingkat kesehatan tubuh dan pikiran.

Di atas secara ringkas penulis memaparkan keadaan tubuh yang disusun dari bagian-bagian yang sangat kecil dimana satu sama lain saling mempengaruhi dan saling mengisi. Ketika salah satu sel tidak berfungsi, maka akan menyebabkan kecacatan dalam tubuh dan menyebabkan keterbatasan dalam bergerak, dan seorang olahragawan tidak bisa menggerakan sebagian anggota badannya seperti biasa, berkurangnya kecepatan berfikir bahkan bisa menyebabkan gangguan jiwa ketika salah satu saraf otaknya terganggu atau tidak berfungsi lagi. Dalam hal ini, sengaja penulis mengambil tubuh sebagai contoh, karena pada dasarnya tubuh dimiliki setiap orang dan bisa secara langsung merasakan keadaannya masing masing, lain halnya ketika dibicarakan benda atau mahluk hidup di luar tubuh kita, akan sangat jarang sekali kita dapati orang yang memperhatikan keadaan di luar tubuhnya.

Tubuh merupakan salah satu contoh kecil dari fenomena alam, masih banyak fenomena yang belum terungkap di alam semesta ini. Dan sering kita dapatkan dalam al-Qur'an, ayat ayat yang mengungkap fenomena alam, sering pula Allah swt. mengingatkan manusia untuk selalu berpikir, merenungkan kekuasaan Allah swt. seperti “Falyanzhur al-Insânu Mimmâ Khuliq” (QS. Al-Thâriq : 5), “Afalâ Yanzhurûn” (QS. Al-Ghâsyiyah : 17), “Am Khuliqû Min Ghairi Syai-in Am Hum al-Khâliqûn” (QS. Al-Thûr : 35), yang semuanya itu Allah swt. tujukan kepada manusia sebagai hayawan al-nâtiq.

Pernahkah kita perhatikan seekor kucing yang dilempar dengan sebuah batu? kemudian apa yang kucing lihat? Batunya atau orang yang melemparnya? Fakta membuktikan bahwa kucing itu tidak melihat pada batunya tapi melihat kepada orang yang melempar batu itu. Begitu pula kita melihat kehidupan ini, kita hanya sering melihat benda-benda, makhluk-makhluk yang ada di sekitar atau musibah yang datang dan tidak pernah melihat siapa yang menciptakan kesemuanya tersebut.

Padahal, seharusnya kita melihat kepada siapa yang mendatangkan benda-benda, makhluk-makhluk dan musibah tersebut, karena ini akan lebih mudah dalam memahami keeksistensian Allah swt. Sekarang banyak para ilmuan yang membuktikan kebenaran al-Qur'an, seperti karya Harun Yahya dan yang lainnya, sebagai bendungan dari usaha kaum orientalis yang mencoba menghancurkan Islam melalui science dan sekaligus membuktikan kebenaran al Qur'an. Fenomena alam dan al Qur'an merupakan dua unsur yang Allah swt datangkan sebagai pengisi kehidupan manusia dan petunjuk dalam menjalani kehidupan, ketika fenomena datang maka al-Qur'an menjawabnya.

Setelah kita tahu kebenaran al Qur'an yang tidak diragukan lagi kebenarannya, apakah keimanan kita tidak bertambah?


Karakteristik Pemuda Muslim Dalam Sorotan Shirah

by Yulia Hambali 0 komentar

Mendengar ucapan seperti itu pemuda tersebut berdiri dan berkata,"Wahai Amirul Mu'minin, sesungguhnya seseorang itu dikarenakan dua hal yang paling kecil padanya, yaitu hati dan lisannya. Jika Allah telah menjaga hatinya (dari maksiat) dan memberikan lisan yang anggun (sopan), maka dia berhak untuk berbicara. Dan seandainya segala perkara dikarenakan oleh usia seseorang, maka yang berhak untuk duduk dalam jabatanmu adalah orang yang lebih tua darimu."

(1) Mendengar ucapan tersebut, terkejutlah Umar atas kebenaran yang yang dikemukakan oleh pemuda itu.
Sejak jaman dahulu kala, bahkan jauh sebelum Islam muncul di muka bumi ini, para Nabi dan Rasul yang diutus untuk menyampaikan wahyu Allah SWT dan syari'at-Nya kepada umat manusia, semuanya adalah orang-orang terpilih dari kalangan pemuda yang berusia sekitar empat puluhan. Bahkan ada di antaranya yang diberi kemampuan untuk berdebat dan berdialog sebelum umurnya genap 18 tahun. Berkata Ibnu Abbas ra, "Tidak ada seorang Nabipun yang diutus oleh Allah, melainkan ia (dipilih) dari kalangan pemuda saja (yakni antara 30 - 40 tahun). Begitu pula tidak seorang 'alimpun yang diberi ilmu melainkan ia (hanya) dari kalangan pemuda saja". Kemudian Ibnu Abbas membaca firman Allah SWT, "Mereka berkata : Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim."

(2) Tentang Nabi Ibrahim, Al Qur'an lebih jauh menceritakan bahwa beliau telah berdebat dengan kaumnya, menentang peribadatan mereka kepada patung-patung yang sama sekali tidak memberi manfaat dan mendatangkan mudharat. Saat itu beliau belum dewasa, seperti yang tertera dalam firman Allah SWT,
"Sesungguhnya, Kami telah memberikan kepandaian pada Ibrahim sejak dahulu (sebelum mencapai masa remajanya) dan Kami kenal kemahirannya. Ketika dia berkata kepada bapak dan kaumnya : 'Patung-patung apakah ini, yang selalu kalian sembah ?' Mereka berkata : 'Kami dapati bapak-bapak kami menyembahnya.' Dia berkata : 'Sungguh kalian dan bapak-bapak kalian itu dalam kesesatan yang nyata'. Mereka menjawab : 'Apakah engkau membawa kebenaran kepada kami, ataukah engkau seorang yang bermain-main saja?' Dia berkata : 'Tidak, Tuhanmu adalah yang memiliki langit dan bumi yang diciptakan oleh-Nya, dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu'". (QS Al Anbiyaa : 51-56)
Perlu digarisbawahi di sini, bahwa para Nabi as telah diutus untuk mengubah keadaan saja, sehingga setiap Nabi yang diutus adalah orang-orang terpilih dan hanya dari kalangan pemuda (Syabab) saja. Bahkan kebanyakan pengikut mereka adalah dari kalangan pemuda juga, meskipun tentu saja ada yang sudah tua atau bahkan masih anak-anak. Kita ingat misalnya Ashabul Kahfi, yang tergolong sebagai pengikut Nabi Isa as. Mereka ini adalah sekelompok anak-anak usia muda yang menolak kembali ke agama nenek moyang mereka dan menolak menyembah selain Allah SWT. Oleh karena jumlahnya sedikit, tujuh orang di antara sekian banyak masyarakat yang menyembah berhala-berhala, maka mereka pun bermufakat untuk mengasingkan diri dari masyarakat dan berlindung dalam suatu gua. Fakta sejarah ini diperkuat oleh Al Qur'an, yang dikisahkan dalam QS Al Kahfi : 9-26, di antaranya,
"(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat perlindungan lalu berdoa : 'Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan tolonglah kami dalam menempuh langkah yang tepat dalam urusan (ini)' " (ayat 10)
"Kami ceritakan kisah mereka kepadamu dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka (Sang Pencipta), dan Kami berikan kepada mereka tambahan pimpinan (iman, taqwa, ketetapan hati dan sebagainya)"" (ayat 13)
Junjungan kita Nabi Muhammad SAW tatkala diangkat menjadi Rasul, beliau juga baru berusia empat puluh tahun. Pengikut-pengikut beliau yang merupakan generasi pertama, kebanyakan juga dari kalangan pemuda, bahkan ada yang masih kecil atau belum dewasa. Usia para pemuda Islam yang mendapatkan tarbiyah pertama di Daarul Arqaam, pada tahap pengkaderan adalah sebagai berikut :

Ali bin Ali Thalib, paling muda di antara mereka, usianya saat masuk Islam baru 8 tahun
Az Zubair bin Al 'Awwam, sama dengan Ali yaitu 8 tahun
Thalhah bin Ubaidillah, 11 tahun
Al Arqam bin Abil Arqaam, 12 tahun
Abdullah bin Mas'ud, 14 tahun
Sa'ad bin Abi Waqqaas, 17 tahun
Su'ud bin Rabi'ah, sama dengan Sa'ad, yaitu 17 tahun
Abdullah bin Mazh'un, juga berusia 17 tahun
Ja'far bin Abi Thalib, 18 tahun
Qudaamah bin Mazh'un, 19 tahun
Sa'id bin Zaid, berusia di bawah 20 tahun
Suhaib Ar Rumi, juga berusia di bawah 20 tahun
Assa'ib bin Mazh'un, kira-kira 20 tahun
Zaid bin Haritsah, sekitar 20 tahun
'Usman bin 'Affan, sekitar 20 tahun
Tulaib bin 'Umair, sekitar 20 tahun
Khabab bin Al Art, juga sekitar 20 tahun
'Aamir bin Fahirah, 23 tahun
Mush'ab bin 'Umair, 24 tahun
Al Miqdad bin Al Aswad, seperti Mush'ab 24 tahun
Abdullah bin Al Jahsy, 25 tahun
Umar bin Al Khaththab, 26 tahun
Abu Ubaidah Ibnul Jarrah, 27 tahun
'Utbah bin Ghazwaan, juga 27 tahun
Abu Hudzaifah bin 'Utbah, sekitar 30 tahun
Bilal bin Rabah, sekitar 30 tahun
'Ayyasy bin Rabi'ah, kira-kira 30 tahun
'Amir bin Rabi'ah, sekitar 30 tahun
Nu'aim bin Abdillah, hampir 30 tahun
'Usman bin Mazh'un, kira-kira 30 tahun
Abu Salamah, Abdullah bin 'Abdil Asad Al Makhzumi, sekitar 30 tahun
Abdurrahman bin 'Auf, juga 30 tahun
Ammar bin Yasir, antara 30-40 tahun
Abu Bakar Ash Shiddiq, 37 tahun
Hamzah bin Abdil Muththalib, 42 tahun
'Ubaidah bin Al Harits, paling tua di antara semua sahabat, 50 tahun.
Bukan hanya mereka saja yang dari kalangan pemuda, akan tetapi ratusan ribu lainnya yang memperjuangkan dakwah Islam, pembawa panji-panji Islam serta pemimpin bala tentara Islam di masa Nabi ataupun sesudahnya, mereka seluruhnya dari kalangan pemuda, bahkan remaja yang belum atau baru dewasa. Adalah Usamah bin Zaid yang diangkat oleh Nabi sebagai komandan untuk memimpin pasukan kaum muslimin menyerbu wilayah Syam, yang saat itu merupakan salah satu wilayah kerajaan Romawi. Masih ingat usia beliau saat itu? Ya, delapan belas tahun. Padahal di antara prajuritnya terdapat orang yang lebih tua dari Usamah, seperti : Abu Bakar, Umar bin Khaththab dan lain-lain. Abdullah Ibnu Umar tak kalah juga hebatnya, semangat juang untuk berperang mulai memanaskan jiwanya sejak usia 13 tahun. Ketika itu Rasulullah SAW sedang mempersiapkan barisan pasukan pada perang Badar. Dua pemuda kecil datang menghampiri beliau, seraya meminta agar diterima menjadi prajurit. Tak salah lagi, dua pemuda kecil tersebut adalah Abdullah bin Umar dan Al Barra'. Saat itu Rasulullah saw menolak mereka. Tahun berikutnya pada perang Uhud, keduanya datang lagi, tetapi yang diterima hanya Al Barra'. Dan pada perang Al Ahzab barulah Nabi menerima Ibnu Umar sebagai anggota pasukan kaum muslimin.

(3)Melalui para pemuda seperti inilah, Islam berhasil menyingkirkan segala macam kekuatan. Ada satu peristiwa yang sangat menarik sekali untuk direnungkan para pemuda jaman ini. Peristiwa ini selengkapnya diceritakan oleh Abdurrahman bin 'Auf,
"Selagi aku berdiri di dalam barisan dalam perang Badar, aku melihat ke kanan dan kiriku, saat itu tampaklah olehku dua orang Anshar yang masih muda belia. Aku berharap semoga aku lebih kuat daripadanya. Tiba-tiba salah seorang di antaranya menekanku seraya berkata : 'Hai paman, apakah engkau mengenal Abu Jahal ?' Aku jawab : 'Ya, apakah keperluanmu padanya, hai anak saudaraku?' Dia menjawab : 'Ada seseorang yang memberitahuku bahwa Abu Jahal ini sering mencela Rasulullah SAW. Demi (Allah) yang jiwaku ada di tangan-Nya jika aku menjumpainya tentu takkan kulepaskan dia sampai siapa yang terlebih dahulu mati, antara aku atau dia! 'Berkata Abdurrahman bin 'Auf : 'Aku merasa heran ketika mendengar ucapan anak muda itu.'Kemudian anak yang satunya lagi itupun menekanku dan berkata seperti ucapan temannya tadi. Tidak lama berselang akupun melihat Abu Jahal mondar-mandir di dalam barisannya, segera aku katakan (kepada dua anak muda itu), 'Inilah orang yang sedang kalian cari.' Tanpa mengulur-ulur waktu, keduanya seketika menyerang Abu Jahal, menikamnya dengan pedang sampai tewas. Setelah itu merekapun menghampiri Rasulullah SAW (dengan rasa bangga) melaporkan kejadian itu. Rasulullah bertanya, 'Siapakah di antara kalian yang menewaskannya?' Masing-masing menjawab, 'Sayalah yang membunuhnya.' Lalu Rasulullah bertanya lagi, ' Apakah kalian sudah membersihkan mata pedang kalian?' 'Belum', jawab mereka serentak. Rasulullah pun kemudian melihat pedang mereka, seraya bersabda, 'Kamu berdua telah membunuhnya. Akan tetapi segala pakaian dan senjata yang dipakai Abu Jahal (boleh) dimiliki Mu'adz bin Al Jamuh'. (Berkata perawi hadits ini) : Bahwa kedua pemuda itu adalah Mu'adz bin'Afra dan Mu'adz bin 'Amru bin Al Jamuh."

(4)Pemuda-pemuda yang dipaparkan di atas merupakan pemuda yang telah membuktikan pada masanya akan aktivitas yang mereka lakukan dan bisa mengubah wajah dunia saat itu dan sekarang, Insya Allah. Dari potret pemuda masa lalu tersebut, kita dapat menggali dari mereka dan merefleksikan pada diri kita dengan situasi dan kondisi yang berbeda. Agar kita bisa menjadi sosio kultur atau pengubah ke arah yang baik, untuk menjayakan kembali umat Islam ini. Sehingga akan datang janji Allah pada kita sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah,
"Sesungguhnya Allah SWT telah memberikan bagiku dunia ini, baik ufuk Timur maupun Barat. Dan kekuasaan umatku akan sampai kepada apa yang telah diberikan kepadaku dari dunia ini."
(5) Saat ini yang harus kita refleksikan dari diri mereka ada tiga hal dan ketiga hal tersebut disebutkan dalam firman Allah SWT dalam surat Fushilat : 33,
"Dan siapakah ucapannya yang paling baik daripada orang yang berdakwah kepada Allah, beramal yang baik dan berkata : 'Sesungguhnya aku ini adalah termasuk orang-orang yang berserah diri' ."
Ketiga hal tersebut (dalam ayat di atas) adalah :

1. Berdakwah atau mengajak umat ini kepada Allah. Dengan kata lain seorang pemuda harus berani mengungkapkan kebenaran yang ada pada Islam, serta membeberkan kerusakan-kerusakan yang ada pada sistem atau pada ide-ide Barat yang banyak diikuti oleh pemuda-pemuda yang bodoh. Dengan dakwah ini pemuda-pemuda pada masa Rasulullah sanggup mengubah kultur yang rusak ke arah yang baik, menegakkan panji-panji Islam dan sanggup menghancurkan setiap kebatilan yang ada. Melalui dakwah ini pula Rasulullah dan sahabat-sahabatnya yang tergolong sebagai pemuda, mengadakan pemberangusan terhadap idiologi-idiologi yang bertentangan dengan Islam dan menyebarkan Islam sebagai rahmat bagi alam semesta.

2. Beraktivitas yang baik dan sesuai dengan syari'at-syari'at Islam. Seorang pemuda seharusnya bisa beraktivitas yang bermanfaat bagi dirinya dan bagi orang lain, dengan batasan-batasan syari'at Allah.

3. Seorang pemuda muslim yang benar-benar bertaqwa, harus berserah diri pada Islam. Maksudnya pemuda harus menjadikan Islam sebagai standart dari perilaku, sehingga kehidupan seorang pemuda akan benar-benar mendapat ridla Allah SWT.
Dengan tiga hal tersebut, seorang pemuda harus benar-benar menjalankannya, supaya akan datang janji Allah. Sebagaimana firman Allah pada surat An Nuur : 55,
"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan amal-amal yang baik, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menja- dikan mereka berkuasa di muka bumi ini sebagaiman telah Dia jadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh-sungguh Dia akan menegakkan bagi mere- ka agama yang telah diridloi-Nya untuk mereka. Dan Dia benar-benar akan menu- kar (keadaan mereka) sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sen- tosa. Oleh karena itu mereka menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku."
Wallahu 'A'lam bish Showaab.


 



"Terima kasih sudah berkunjung"

KUMPULAN ARTIKEL & HADIS-HADIS ROSULULLOH Copyright © 2010 LKart Theme is Designed by Lasantha