METODE MEMPELAJARI AJARAN ISLAM HUKUM, AKHLAK DAN TASAWUF


A . Model Penelitian Fikih (Hukum)
Fikih atau hukum islam merupakan salah satu bidang studi islam yang paling dikenal masyarakat. Hal ini antara lain karena fikih terkait langsung dengan kehidupan masyarakat, maka fikih dikategorikan sebagai ilmu al-hal, yaitu ilmu yang berkaitan dengan tingkah laku kehidupan manusia, dan termasuk ilmu yang wajib dipelajari, karena dengan ilmu itu pula seseorang baru dapat melaksanakan kewajibannya mengabdi kepada Allah melalui ibadah seperti shalat, puasa, haji dan sebagainya.
Dengan fungsinya yang demikian itu tidak mengherankan jika fikih termasuk ilmu yang pertama kali diajarkan kepada anak-anak dari sejak bangku taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi. Dari sejak kanak-kanak seseorang sudah mulai diajari berdoa, berwudhu, shalat dan sebagainya. dilanjutkan ke perguruan tinggi para mahasiswa mwmpelajari fikih lebih luas lagi yaitu tidak menyangkut ibadah tetapijuga muamalat seperti jual beli, perdagangan, sewa menyewa, gadai menggadai dilanjutkan dengan fikih jinayat yang berkaitan dengan peradilan tindak pidana. masalah rumah tangga, perceraian, sampai masalah perjanjian, peperangan, pemerintah dan sebagainya.
Demikian besar fungsi yang dimainkan oleh fikih,maka tidak mengherankan jika di perguruan tinggi atau universitas terdapat fakultas hokum yang didukung oleh para ahli di bidang hokum yang amat banyak jumlahnya.
Keadaan fikih demikianitu tampak inheren atau menyatu dengan misi agama islam yang kehadirannya untuk mengatur kehidupan manusia agar tercapai ketertiban dan keteraturan dengan Rasalulloh SAW. karena wahyu , yaitu cara memperoleh dan mengetahui kehendak tuhan secara langsung, terhenti semenjak maninggalnya Nabi Muhamad , maka syariah yang telah terungkap secara sempurna pada prinsipnya lantas menjadi statis yang bersifat kekal.
Sifat yang kemudian menjadi ciri hokum islam dalam artian hokum yang mengatur kehidupan ummat islam adalah pembedaan antara ajaran ideal dan praktek factual. antara syariah seperti yang diajarkan ahli-ahli hokum klasik disatu pihak dan hokum positif yang berlaku penelitian teoritis, suatu penelitian yang bergerak dalam ruang lingkup sejauh mana praktek pengadilan sesuai atau menyimpang dari norma-norma syariah.
Berdasarkan pada pengamatan terhadap fungsi hokum islam atau fikih tersebut, maka muncullah serangkaian penelitian dan pengembangan hokum islam yaitu penelitian yang ingin melihat seberapa jauh produk-produk hokum islam tersebut masih sejalan dengan tuntutan zaman, dan bagaimana seharusnya hokum islam itu dikembangkan dalam rangka meresponi, dan menjawab secara konkret sebagai masalah yang timbul di masyarakat. Penelitian ini dinilai penting untuk dilakukan agar keberadaan hokum islam atau fikih tetap akrab dan fungsional dalam memandu dan membimbing perjalan ummat.

1. PENGERTIAN DAN KARAKTERISTIK HUKUM ISLAM
          Pengertian hokum islam hingga saat ini masih rancu dengan pengertian syariah, untuk itu dalam pengertian hokum islam di sini dimaksudkan di dalamnya pengertian syariat. Dlam kaitan ini dijumpai pendapat yang mengatakan bahwa hokum islam atau fikih adalah sekelompok dengan syariat yaitu ilmu yang berkaitan dengan amal perbuatan manusia yang diambil dari nash al-Qur’an atau al-Sunnah. Dengan demikian yang disebut ilmu fikih ialah sekelompok hokum tentang amal perbuatan manusia yang diambil dari dalil-dalili terperinci.
Yang dimaksud dengan amal perbuatan manusia ialah segala amal perbuatan orang mukallaf yang berhubungan dengan bidang ibadat, muamalat, kepidanaan dan sebagainya. Adapun yang dimaksud dengan dalil-dalil yang terperinci ialah satuan-satuan dalil yang masing-masing menunjukan kepada suatu hokum tertentu.
Berdasarkan batasan tersebut di atas sebenarnya dapat dibedakan antara syariah dan hokum islam atau fikih. Perbedaan tersebut terlihat pada dasar atau dalil yang digunakannya. Jika syariat didasarkan pada nash al-Quran atau al-Sunnah secara langsung, tanpa memerlukan penalaran; sedangkan hokum islam didasarkan pada dalil-dalil yang dibangun oleh para ulama melalui penalaran atau ijtihad dengan tetap berpegang pada semangat yang terdapat dalam syariat. Dengan demikian, maka jika syariat bersifat permanen, kekal dan abadi, maka fikih atau hokum islam bersifat temporer, dan dapat berubah.
Ciri syariat islam identik dengan ciri hokum islam. Ciri tersebut menurut Zaki Yamani ada dua. Pertama, bahwa syariat islam itu luwes, dapat berkembang untuk menanggulangi semua persoalan yang berkembang dan berubah terus; ia sama sekali dengan apa yang digambarkan baik oleh musuh-musuh islam, maupun oleh sementara penganutnya yang menyeleweng atau yang kolot dan sempit, yakni bahwa syariat islam itu suatu sistem, agama yang sudah lapuk dan nanar oleh sebab kelanjutan usianya. Kedua, bahwa dalam pusaka perbendaharaan hokum islam terdapat dasar-dasar yang mantap untuk pemecahan-pemecahan yang dapat dilaksanakan secara tepat, dan cermat bagi persoalan-persoalan yang paling pelik di masa kini, yang tidak mampu dipecahkan oleh sistem barat maupun oleh prinsip-prinsip Timur, meskipun sekedar untuk melunakannya saja.
Sejalan dengan uraian tersebut, Zaki Yamani membagi syariat Islam dalam dua pengertian. Pertama, pengertian dalam bidang yang luas dan Kedua, pengertian dalam bidang yang sempit. Pengertian syariat Islam dalam bidang yang luas meliputi semua hokum yang telah disusun dengan teratur oleh para fikih dalam pendapat-pendapat fikihnya mengenai persoalan di masa mereka, atau yang mereka perkirakan akan terjadi kemudian, dengan mengambil dalil-dalil yang berlangsung dari al-Quran dan al-hadits, atau sumber pengambilan hokum ijma’, qiyas, istihsan, istishlah dan masalih al-mursalah. Syariat dalam pengertian yang luas ini memberikan peluang untuk berbeda pendapat. Adapun dalam pengertian yang sempit, syariat islam itu terbatas pada hokum-hukum yang berdalil pasti dan tegas, yang tertera dalam al-quran, alhadits yang shohih, atau yang ditetapkan dengan ijma. dalam pengertian sempit ini, syariat dengan dalil-dalilnya yang tegasdan pasti mewajibkan setiap muslim untuk mengikutinya dan menjadikannya sebagai sumber untuk memecahkan kesulitan masalah yang dihadapi.
perbedaan antara dua pengertian yag luas dan sempit tentang syariat tadi akan terasa pentingnya dalam Negara-negara yang melaksanakan syariat islam seutuhnya seperti arab Saudi yang akan membuktikan secara mudah dan jelas perlu tidaknya pelaksanaan semua hokum syariat islam dalam pengertian luas.

2. MODEL-MODEL PENELITIAN HUKUM ISLAM (FIKIH)
Pada uraian berikut ini akan kami sajikan beberapa model penilitian yang dilakukan oleh Harun Nasution, Noel J. Coulson dan Muhammad Atha Mutzar.
a . Model Harun Nasution
Sebagai guru besar dalam bidang Teologi dan Filsafat, Harun Nasution juga mempunyai perhatian terhadap hokum islam. Penelitiannya dalam bidang hokum islam ini ia tuangkan secara ringkas dalam bukunya Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspek jilid II. Melalui penelitiannya secara ringkas namun mendalam terhadap berbagai literature tentang hokum islam dengan menggunakan pendekatan sejarah, Harun Nasution telah berhasil mendeskripsikan struktur islam secara komprenshif, yaitu mulai dari kajian ayat-ayat hokum yang ada dalam al-Quran, latar belakang dan sejarah pertumbuhan dan perkembangan hokum islam sejak zaman nabi sampai sekarang, lengkap dengan beberapa mazhab yang ada didalamnya berikut sumber hokum yang digunakannya serta latar belakang timbulnya perbedaan pendapat.
Model penelitian hokum islam yang digunakan Harun Nasution adalah penelitian Eksploratif, Deskriptif, dengan menggunakan pendekatan kesejarahan. Interprestasi yang dilakukan atas data-data historis tersebut selalu dikaitkan dengan konteks sejarahnya. Melalui penelitian ini,pembaca akan mengenal secara awal untuk memasuki kajian hokum islam lebih lanjut.
b . Model Noel J Coulson
Menyajikan hasil penelitian di bidang hukum islam dalam karyanya berjudul hukum islam dalam perspektif sejarab .buku ini telah di terjemahkan oleh Hamid Ahmaddan di terbitkan oleh perhimpunan pengembangan pesantren dan masyarakat (p3M) pada tahun 1987 penelitian yang bersifat deskriftif analitis ini menggunakan pendekatan sejarah .seluruh informasi tentang perkembangan hukumpada setiap periode selalu dilihat dari faktor factor sosio cultural yang mempengaruhi,sehingga tidak ada satupun produk hukum yang di buat dari ruang yang hampa sejarah.
bagian pertama menjelaskan tentang terbentuknya hukum syariat,yang didalamnya dibahas tentang legalisasi al quran ,praktik hukum di abad pertama islam.bagian kedua berbicara tentang pemikiran dan praktek hukum islam di abad pertengahan.Bagian ketiga berbicara tentang hukum islam dimasa modern yang didalamnya di bahas tentang penyerapan hukum eropa,hukum syari’at kontenfoler,taklid dan pembaharuan hukum serta neoijtihad.
Ketika berbicara tentang legalisasi al Quran,Coulson mengatakan bahwa perinsip tuhan adalah satu satunya pembentukan hukum dan bahwa semuaperintahnya harus dijadiakan kendali utama atau segenap aspek kehidupan sudahlah mapan.Hanya saja perintah perintah itu tidak tersusun secara bulat dalam bentuk bab yang lengkap buat manusia.Selanjutnya peristiwa peristiwa pada masa berikutnya menunjukan bahwa konsep-konsep al-Qur’an tidak lebih dari semacam mukaddimah dari suatu hukum islam, suatu kitab yang kemudian dioperasikan oleh generasi-generasi berikut secara terus menerus.
Metode penelitian hukum islam yang dilakukan oleh Noel J Coulson dengan pendekatan historis, Coulson berhasil menggambarkan perjalanan hukum islam sejak berdirinya hingga sekarang secara utuh. melalui penelitiannya itu, coulson telah berhasil menempatkan hukum islam sebagai perangkat norma dari perilaku teraturdan merupakan suatu lembaga sosial. Di dalam prosesnya, hukum sebagai lembaga sosial memenuhi kebutuhan pokok manusia akan kedamaian dalam masyarakat. warga masyarakat tidak mungkin hidup teratur tanpa hukum, oleh karena norma-norma lainnya tak akan mungin memenuhi kebutuhan manusia akan keteraturan dan ketentraman secara tuntas. Dalam hukum islam sebagaimana diketahui misalnya memperhatikan sekali masalah keluarga, karena dari keluarga yang baik, makmur dan bahagialah tersusun masyarakat yang baik,makmur dan bahagia. oleh karena itu keteguhan ikatan kekeluargaan perlu dipelihara, dan di sinilah terletak salah satu sebabnya ayat-ayat ahkam mementingkan soal kehidupan kekeluargaan, dengan melihat fungsi hukum demikian, maka pengamatan terhadap perubahan sosial harus dijadikan pertimbangan amat penting dalam rangka reformulasi hukum islam.
c. Model Mohammad Atho Mudzhar
Dalam rangka penyelasaian program doktornya di Universitas California, Amerika Serikat, di tahun 1990 Mohammad menulis disertasi yang isinya berupa penelitian terhadap produk fatwa majelis ulama Indonesia tahun 1975-1988. Penelitian disertasinya itu berjudul Fatwas of The Council of Indonesian Ulama A Study of Islamic Legal Thought in Indonesian 1975-1988. Pada bagian pendahuluannya penulis disertasi tersebut menjelaskan metode penelitian yang digunakan.
Tujuan dari penelitian yang dilakukan adalah untuk mengetahui materi fatwa yang dikemukakan majelis ulama Indonesia serta latar belakang sosial politik yang melatarbelakangi timbulnya fatwa tersebut.
Penelitian hukum islam yang dilakukan oleh mohammad termasuk penelitian uji teori atau uji asumsi (hipotesa) yang dibangun dari berbagai teori yang terdapat dalam ilmu sosiologi hukum. Penelitian amat jelas menggunakan asumsi yang ingin dibuktikan dalam penelitiannya itu. Dengan menggunakan bahan-bahan tulisan terlihat bahwa penelitian ini tergolong penelitian kepustakaan. Sedangkan kerangka analisa yang digunakannya adalah sosiologi hukum. Penelitian ini semakin memperjelas tesis dari Schacht yang mengatakan bahwa cirri khas pertama perkembangan hukum islam adlah penerimaan secara luas terhadap unsur-unsur yang amat beragam. Lapisan bawah dan atas, hukum itu hingga saat tertentu tidak berasal dari islam atau tinggal semata-mata al-Qur’an.
Hasil penelitian tersebut terasa mengejutkan sebagian ulama fikih tradisional. Hal ini dinilai akan menghilangkan unsure kesakralan atau kekudusan hukum Islam. Para ulama tradisional khawatir penelitian tersebut akan menempatkan hukum Islam sebagai hukum sekular yang dapat diubah seenaknya. Kesan demikian tidak mengherankan karena secara factual hukum Islam atau fikih yang selama ini dipelajari ummat Islam mulai dari tingkat dasar sampai dengan perguruan tinggi bersifat a-historis, atau kehilangan konteks kesejarahannya. Para ulama yang mempelajari Fikih pada umumnya tidak mengetahui berbagai faktor sosio kultur, politik, serta lainnya yang ikut serta mempengaruhi terbentuknya hukum tersebut. Akibat keadaan demikian, mereka tidak pernah mengetahui konteks situasional yang menyebabkan mengapa produk itu lahir. Dari keadaan demikian pula sulit sekali diterimanya upaya reformasi dan pembaharuan dalam hukum Islam. Dan jika keadaan tersebut terus berlanjut, maka akan banyak sekali produk hukum yang tidak lagi sesuai dengan tuntutan zaman, karena produk hukum tersebut dengan tuntutan sosial sudah terdapat ketidakcocokan atau telah terjadi kesenjangan antara keduanya.
Namun demikian kitapun tidak sepenuhnya menerima pendapat yang mengatakan bahwa seluruh produk hukum Islam harus disesuaikan dengan tuntutan zaman. Hukum Islam yang berkaitan dengan masalah ibadah ritual misalnya, jelas tidak dipengaruhi oleh perubahan zaman. Rukun shalat, serta berbagai ketentuan lainnya tentang ibadah jelas tidak mengalami perubahan. Tetapi bagaimana cara seseorang memahami makna ibadah dalam kehidupannya jelas dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan, lingkungan dan lain sebagainya.
Produk-produk hukum yang sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan sosial banyak terjadi pada masalah-masalah yang berkaitan dengan kehidupan sosial, ekonomi, kriminalitas, masalah perkawinan, dan lain sebagainya.
Dengan demikian, hukum Islam baik langsung maupun tidak langsung masuk ke dalam kategori ilmu sosial. Hal ini sama sekali tidak mengganggu kesucian dan kesakralan al-Quran yang menjadi sumber hukum Islam tersebut.Sebab yang dipersoalkan di sini bukan mempertanyakan relevan dan tidaknya al-Quran tersebut, tetapi yang dipersoalkan adalah apakah hasil pemahaman terhadap ayat-ayat al-Quran, khususnya mengenai ayat-ayat ahkam tersebut masih sejalan dengan tuntutan zaman atau tidak. Keharusan menyesuaikan hasil pemahaman ayat-ayat al-Quran yang berkenaan dengan hukum tersebut dengan perkembangan zaman perlu dilakukan. Karena dengan cara inilah makna kehadiran al-Quran secara fungsional dapat dirasakan oleh masyarakat.

MODEL PENELITIAN TASAWUF
Tasawuf merupakan salah satu bidang studi Islam yang memusatkan perhatian pada pembersihan aspek rohani manusia yang selanjutnya dapat menimbulkan akhlak mulia. Pembersihan aspek rohani atau batin ini selanjutnya dikenal sebagai dimensi esoterik dari diri manusia. Hal ini berbeda dengan aspek fikih, khususnya pada bab thaharah yang memusatkan perhatian pada pembersihan aspek jasmaniah atau lahiriah yang selanjutnya disebut sebagai dimensi eksoterik.
Islam sebagai agama yang bersifat universal dan mencakup berbagai jawaban atas berbagai kebutuhan manusia, selain menghendaki kebersiha lahiriah juga menghendaki kebersihan batiniah, lantaran penilaian yang sesungguhnya dalam Islam diberikan pada aspek batinnya. Hal ini misalnya pada salah satu syarat diterimanya amal ibadah, yaitu harus disertai niat.
Melalui studi tasawuf ini seseorang dapat mengetahui tentang cara-cara pelakukan pembersihan diri serta mengamalkannya secara benar. Dari pengetahuan ini diharapkan ia akan tampil sebagai orang pandai mengendalikan dirinya pada saat ia berinteraksi dengan orang lain, atau pada saat melakukan aktivitas dunia yang menuntut kejujuran, keikhlasan, tanggung jawab, kepercayaan dan sebagainya. Dari suasana yang demikian itu, tasawuf diharapkan dapat mengatasi berbagai penyimpangan moral yang mengambil bentuk manipulasi, korupsi, kolusi, penyalahgunaan kekuasaan dan kesempatan, penindasan dan lain sebagainya.
Kembalinya masyarakat saat ini kepada tasawuf adalah cukup beralasan, karena secara historis, kehadiran tasawuf bermula sebagai upaya untuk mengatasi krisis akhlak yang terjadi di masyarakat Islam di masa lalu, yaitu saat ummat Islam di abad klasik (650-1250 M) bergelimang dengan harta dan kemewahan sudah mulai terjerumus ke dalam kehidupan foya-foya, berbuat dosa dan akhirnya ia lupa pada tugasnya sebagai khalifah Tuhan di muka bumi. Mereka sakit mentalnya sehingga tidak sanggup lagi memikul beban membangun masyarakat. Dalam keadaan yang sakit inilah, maka datang sebuan bangsa Mongol di tahun 1258 M. dan berhasil mengalahkan ummat Islam dengan kehancuran kota Baghdad secara menyedihkan.
Demikian pentingnya peranan tasawuf dalam kelangsungan hidup manusia seutuhnya, maka tidak mengherankan apabila tasawuf demikian akrab dengan kehidupan masyarakat Islam, setelah masyarakat tersebut membina akidah dan ibadahnya, melalui ilmu tauhid dan ilmu fikih. Dengan demikian terjadilah hubungan tiga serangkai yang amat harmonis yaitu akidah, syariah dan akhlak. Berkenaan dengan ini telah bermunculan para peneliti yang mengonsentrasikan kajiannya pada masalah tasawuf yang hasilnya telah disajikan dalam berbagai literatur baik yang berbahasa Arab, Inggris maupun lain sebagainya. Keadaan ini selanjutnya mendorong timbulnya kajian dan penelitian di bidang tasawuf.

A.PENGERTIAN TASAWUF
Dari segi kebahasan (linguistik) terdapat sejumlah kata atau istilah yang dihubungkan orang dengan tasawuf. Harun Nasution misalnya menyebutkan lima istilah yang berhubungan dengan tasawuf, yaitu al-suffah (ahl al-suffah) yaitu orang yang ikut pindah dengan abi dari Mekkah ke Madinah, saf, yaitu barisan yang dijumpai dalam melaksanakan shalat berjama’ah, sufi yaitu bersih dan suci, sophos(bahasa Yunani: hikmah), dan suf (kain wol kasar).

Related Articles :


Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook

0 komentar:

Poskan Komentar

 



"slamat berkunjung gaaannn...!!!"

KUMPULAN ARTIKEL & HADIS-HADIS ROSULULLOH Copyright © 2010 LKart Theme is Designed by Lasantha